'ATIRIL 9


♥.♥.♥
Ya Allah Berikanlah Wewangian pada Qubur Nabi
Shollallohu’alayhi wa sallam yang mulia, dengan Sholawat dan Salam
Sejahtera yang Mewangi..
♥.♥.♥
Ketika beliau mencapai usia empat tahun, ibunya berangkat dengannya ke Madinah.
Kemudian ia kembali lalu wafat di Abwa’ atau Syi‘bul Hajun.
Lalu beliau dibawa oleh pengasuhnya, Ummu Aiman Al-Habasyiah, yang
nantinya beliau nikahkan dengan Zaid bin Haritsah, maula (bekas budak)
beliau.
Ummu Aiman memasukkan beliau ke tempat kakeknya, Abdul Muthalib.
Maka Abdul Muthalib memeluknya dan ia sangat sayang kepadanya.
Lalu ia berkata, “Sesungguhnya anakku (cucuku) ini mempunyai
kedudukan yang sangat tinggi, maka beruntunglah orang yang menghormati
dan memuliakannya.”
Beliau, yang enggan mengadu, tidak pernah mengadu lapar dan haus di waktu kanak-kanak.
Sering kali beliau pergi di waktu pagi lalu beliau minum (sebagai pengganti makan) air zamzam,
sehingga membuatnya kenyang dan segar.
Ketika kematian menjemput kakeknya, Abdul Muthalib, pamannya,
saudara kandung ayahnya, Abu Thalib, menanggungnya, dengan
memeliharanya.
Ia melaksanakan penanggungan itu dengan kemauan keras dan penuh semangat.
Abu Thalib mendahulukan beliau dibandingkan dirinya dan anak-anaknya, dan ia juga mendidiknya.
Saat beliau mencapai umur dua belas tahun, pamannya membawanya pergi ke negeri Syam.
Pendeta Buhaira mengenalnya karena sifat kenabian yang ada pada
diri beliau. Dan ia berkata, “Aku yakin, beliau adalah pemimpin
seluruh alam, utusan Allah, dan nabi-Nya.
Pohon dan batu sujud kepadanya, padahal keduanya tidak sujud kecuali kepada nabi yang selalu kembali kepada Allah.
Sesungguhnya kami mendapati sifatnya di dalam kitab samawi yang
terdahulu.” Di antara kedua bahunya terdapat cap kenabian yang telah
diratai oleh cahaya.
Pendeta itu menyuruh pamannya untuk mengembalikannya ke Makkah,
karena mengkhawatirkan beliau dari perlakuan para pemeluk agama
Yahudi.
Maka Abu Thalib membawa pulang beliau dari Syam yang suci tidak melalui Bashrah.
